Tahukah kamu (?) (2)
Lebih dari 75% software house yang memiliki CMMI level 5 ada di Bangalore – India. Di Indonesia ??
Baca di sini:
Why “India Inside” Spells Quality
Did you know that 75% of the world’s CMM Level 5 software centers were in India?
Here’s how the quality movement transformed the Indian IT services industry
Monday, October 27, 2003
Europe, and the need for ISO certification, provided the trigger to the quality movement in India. But the real impetus came after Motorola’s software center at Bangalore became the world’s second CMM Level 5 unit in 1994 (the first was at NASA). Even for those familiar with India’s software industry, this is a startling number.
There are 80 software centers on the planet that are assessed at CMM Level 5. Of all those centers, 60 are in India.
14 Comments »
Leave a comment
-
Archives
- January 2010 (1)
- December 2009 (8)
- November 2009 (5)
- October 2009 (15)
- September 2009 (12)
- August 2009 (5)
- July 2009 (4)
- June 2009 (7)
- May 2009 (14)
- April 2009 (7)
- March 2009 (7)
- February 2009 (18)
-
Categories
- analysis
- aspect oriented
- CBSE
- critical system
- design
- digital learning
- e-business
- ecosystem
- final project
- fun
- health informatics
- introduction
- lecture
- maintenance
- method
- oop
- others
- programming
- project
- project management
- quality
- real time system
- requirement
- research
- service computing
- soa
- software architecture
- software developer
- software metrics
- software process
- software product
- software quality
- software standard
- technology
- testing
- tools
- Uncategorized
- webE
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
Horee… Bu Yani sekarang sudah membuat blog. Selamat ya. Mana blog Arif?
Iya nih… mudah-mudahan akan tetap rajin posting… Sementara, saya dulu yang nge-blog …:-)
Saya ngeblog begitu blogspot muncul pak Rinaldi, tapi sampai sekarang belum dipublish
numpang langganan, ya, Bu ^_^
* idem dengan petra * ^^
kalo ga salah, kita juga punya banyak perusahaan yang memiliki CMII Level 5, tapi perusahaan ‘Pembajak Software’ , he3..
Silahkan Petra, Ghifar… kita sharing apapun tentang S/W Engingeering ya…
Itu kan cerita tahun 2003, bu..
Dan tentunya ada banyak faktor yang bisa bikin angka 75% itu.. Mungkin saja marketingnya CMMI memang sengaja mengincar India.. hoho..
Btw, apakah di Indonesia memang belum ada yg mencapai level 5 ya? Kalau level 4, saya tau ada beberapa..
Iya memang tahun 2003 ya… Tapi, perkiraan saya, posisi sekarang masih kurang-lebih sama. Developer dari India dikenal profesional, sehingga client-nya di berbagai negara cukup puas.
Di Indonesia, kayaknya sertifikasi seperti ini belum dianggap penting. Client belum terlalu peduli… Atau saya salah ??
Di Indonesia saya rasa belum ada client yang peduli tentang hal ini. Mereka tahunya asal jadi, bagus, beres, dan sesuai dengan perjanjian ya berarti software house ybs. dapat kesan yang bagus. Saya juga benar2 tahu dan merasakan ini ya pas KP, Bu
-Diaz-
Halo Ibu Yani, wah senangnya ketika tahu Ibu ngeblog tentang Software Engineering. Saya juga ikutan langganan ya Bu.
Berhubung ada beberapa orang yang komen mengenai CMM, ikut nimbrung Bu, berhubung semester ini saya ngambil kuliah Software Process Management. Ternyata, semakin tinggi level CMM bukan jaminan semakin baik pula bagi klien dan perusahaan. Semakin tinggi level CMM, semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu project. Oleh karena itu, CMM sebaiknya disesuaikan dengan karakter project dan client. Semakin kompleks suatu project, semakin jelas requirement yang mampu diberikan clientnya, dan semakin lowong waktu kerja yang tersedia, semakin baik pula CMM level tinggi. Untuk project yang requirement-nya selalu berubah dan butuh waktu cepat, cara kerja seperti yang dideskripsikan dalam CMM level 5 (misalnya) mungkin akan memperlambat waktu release. Ditambah lagi, dalam banyak kasus, tidak semua dokumentasi seperti yang disyaratkan oleh CMM level tinggi dibutuhkan klien. Oleh karena itu, beberapa perusahaan software dengan sengaja mengurangi level CMM mereka supaya bisa menangani lebih banyak project.
Hi Arya… Senang juga terima kabar dari Arya… Saya banyak mendengar kabar baik tentang Arya..
Setuju. CMM memang perlu diterapkan kalau kita sering membangun S/W skala besar dan kompleks, yang membutuhkan manajemen proses yang baik. Untuk yang skala kecil, effortnya jadi terlalu berlebihan ya… Tentang ini dibahas juga di novelnya Tom de Marco (Deadline), novel tentang manajemen proyek..
Ikut nimbrung & sharing.
Saya agak kurang sependapat dengan pernyataan
“Ternyata, semakin tinggi level CMM bukan jaminan semakin baik pula bagi klien dan perusahaan.”
Karena suatu perusahaan/industri SW yang sudah memiliki CMM dengan level lebih tinggi, manajemen prosesnya akan tetap lebih baik dibandingkan dengan yang level lebih rendah.
Justru dengan atribut bahwa perusahaan/indutri tsb. sudah memiliki CMM dengan level tertentu, maka produk SW yang dihasilkan pun telah memberikan pula jaminan atau tingkat kualitas tertentu, yang tentunya hal ini merupakan “advantage” bagi client nya.
Persoalan akan muncul, seandainya perusahaan dengan CMM level 5 menerima pesanan dari client, yang notabene produk SW yang dipesan skalanya relatif kecil dan tidak begitu kompleks, apakah perusahaan tsb. akan melakukan manajemen proses yang ketat sesuai dengan “level capability” nya.
Untuk itu saya setuju pendapat ibu Yani, bahwa untuk produk SW yg berskala kecil atau pun tidak terlalu kompleks, mungkin perusahaan SW tsb. perlu melakukan “adjustment” terhadap manajemen proses nya supaya bisa memenuhi “requirement” client, khususnya berkaitan dengan “delivery time” dan penyesuaian “target price” nya.
Namun kenyataannya dan akan berjalan secara alamiah, yaitu bahwa:
- Perusahaan / industri SW yang memiliki CMM yang tinggi (level 4 or 5) akan berbisnis pada produk SW dengan skala besar dan kompleks, baik itu berdasarkan pesanan “end-client” ataupun menerima “outsourcing” dari perusahaan besar lainya (banyak dilakukan oleh perusahaan SW di India, itu sebabnya India memiliki banyak perusahaan dengan CMM or CMMI level 5 (*)), maupun produk SW yang bukan berdasarkan pesanan, yakni produk tsb. sengaja dikembangkan untuk penetrasi pasar.
- Sementara perusahaan SW yang memiliki CMM yang lebih rendah akan fokus atau berbisnis pada produk SW dengan skala relatif menengah ataupun lebih kecil.
Alasannya:
Karena bila produk SW dengan skala relatif kecil ditawarkan kepada perusahaan SW yang memiliki CMM level 5, maka perusahaan tsb. akan menawarkan harga yang jauh lebih tinggi (tidak kompetitif !) dibandingkan tawaran dari perusahaan yang memiliki CMM yg lebih rendah.
Kesimpulannya:
Bahwa masing perusahaan dengan CMM level tertentu akan mempunyai segmen pasar masing2 tergantung dari “scope” nya, seperti yang telah dijelaskan diatas.
(*) Yan …..
Mungkin perlu dibuat topik baru “Why 75% of the world’s CMM Level 5 software centers were in India (majority in Bangalore)?” bukan di negara2 sedang berkembang seperti China (negara maju ?), Vietnam, Pilipina, negara2 Eropa Timur, Amerika Latin atau bahkan di Indonesia ? ….
Thx sharingnya ya…
Untuk topik baru yang diusulkan, rasanya pernah dibahas di koran Tempo. Bahkan Bill Gates sendiri puas bekerja sama dengan orang-orang India. Nanti saya cari dulu infonya ya…
[...] maturity model integration) -nya SEI (Software Engineering Institute). Sempat dibahas sedikit di sini. CMMI mendefinisikan beberapa level maturity. Untuk naik ke level yang lebih tinggi, sejumlah key [...]