Realisasi Use Case
Setelah mendefinisikan kebutuhan dalam bentuk use case, bagaimana merealisasikannya ? Setiap use case harus dibuat deskripsinya lengkap dengan berbagai kemungkinan skenarionya. Skenario memberi gambaran bagaimana interaksi actor dan sistem. Selanjutnya, kita bisa mulai mengidentifikasi objek-objek apa saja yang akan terlibat dalam suatu use case (breakdown dari ’sistem’). Tentu saja dengan mengacu deskripsi skenario yang telah dibuat. Kemudian gambarkan dalam bentuk diagram interaksi (boleh collaboration diagram atau sequence diagram) agar lebih jelas bagaimana sebuah skenario berjalan dalam terminologi kolaborasi antar objek. Ya, pada paradigma berorientasi-objek, suatu skenario berjalan melalui kolaborasi antar objek. Dari diagram interaksi tersebut, selanjutnya kita gambarkan diagram kelas. Diagram ini menunjukkan kelas-kelas yang harus ada agar objek-objek yang dibutuhkan bisa diinstansiasi dari kelas-kelas tersebut. Diagram kelas menunjukkan berbagai jenis relasi antar kelas. Relasi ini harus konsisten dengan diagram interaksi objek yang sudah kita buat sebelumnya.
Realisasi use case dilakukan di tahap analisis dan berlanjut di tahap design. Bedanya, realisasi use case tahap analisis melibatkan objek dan kelas tahap analisis, sedangkan realisasi use case tahap design melibatkan objek dan kelas tahap design. Apa bedanya ? Lihat lagi posting OOA vs OOA…
3 Comments »
Leave a comment
-
Archives
- November 2009 (1)
- October 2009 (15)
- September 2009 (12)
- August 2009 (5)
- July 2009 (4)
- June 2009 (7)
- May 2009 (14)
- April 2009 (7)
- March 2009 (7)
- February 2009 (18)
- January 2009 (15)
- December 2008 (13)
-
Categories
- analysis
- aspect oriented
- CBSE
- critical system
- design
- e-business
- ecosystem
- final project
- fun
- health informatics
- introduction
- lecture
- maintenance
- method
- oop
- others
- programming
- project
- project management
- quality
- real time system
- requirement
- research
- service computing
- soa
- software architecture
- software metrics
- software process
- software product
- software quality
- software standard
- technology
- testing
- tools
- Uncategorized
- webE
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
[...] Menentukan use case untuk software yang akan kita buat tidak bisa dilakukan sekali jadi. Perlu iterasi yang mungkin lebih dari dua kali. Bisa jadi, saat awal kita mendefinisikan sebuah use case X, tetapi di iterasi berikutnya kita memutuskan untuk memecahnya menjadi use case X1 dan X2 (atau sebaliknya: menggabung beberapa use case menjadi sebuah use case saja). Keputusan tersebut biasanya dibuat setelah kita lebih detil menurunkan skenario use case atau saat kita sudah mulai melakukan analisis use case (lihat realisasi use case). [...]
ibu, saya ingin bertanya, bagaimana cara menentukan scenario use case pada sebuah software yang cakupan bisnis prosesnya sangat besar. misalnya saja bisnis proses pertamina, dari mulai penggalian sampai distribusi ke user.
apakah perlu dibentuk scenario use case global? atau cukup dengan scenario per fitur/use case nya saja?
terima kasih bu..:)
Saya usul, untuk proses bisnis tsb dibuat gambarnya dulu yg menjelaskan skenario umum proses bisnis. Kemudian diidentifikasi use case yg perlu ada dari gambar tadi. Bisa ada byk use case. Untuk setiap use case, kembali dibuat alternatif skenarionya…