Home > others, software process > Tahukah kamu (?) (2)

Tahukah kamu (?) (2)

Lebih dari 75% software house yang memiliki CMMI level 5 ada di Bangalore – India. Di Indonesia ??

Baca di sini:

Why “India Inside” Spells Quality
Did you know that 75% of the world’s CMM Level 5 software centers were in India?
Here’s how the quality movement transformed the Indian IT services industry

Monday, October 27, 2003

Europe, and the need for ISO certification, provided the trigger to the quality movement in India. But the real impetus came after Motorola’s software center at Bangalore became the world’s second CMM Level 5 unit in 1994 (the first was at NASA). Even for those familiar with India’s software industry, this is a startling number.

There are 80 software centers on the planet that are assessed at CMM Level 5. Of all those centers, 60 are in India.

Categories: others, software process
  1. June 24, 2008 at 11:17 am

    Horee… Bu Yani sekarang sudah membuat blog. Selamat ya. Mana blog Arif?

  2. yaniwid
    June 24, 2008 at 12:36 pm

    Iya nih… mudah-mudahan akan tetap rajin posting… Sementara, saya dulu yang nge-blog …:-)

  3. Arief
    June 24, 2008 at 3:11 pm

    Saya ngeblog begitu blogspot muncul pak Rinaldi, tapi sampai sekarang belum dipublish😀

  4. June 25, 2008 at 7:53 am

    numpang langganan, ya, Bu ^_^

  5. June 25, 2008 at 8:14 am

    * idem dengan petra * ^^

    kalo ga salah, kita juga punya banyak perusahaan yang memiliki CMII Level 5, tapi perusahaan ‘Pembajak Software’ , he3..

  6. yaniwid
    June 25, 2008 at 2:40 pm

    Silahkan Petra, Ghifar… kita sharing apapun tentang S/W Engingeering ya…

  7. June 27, 2008 at 11:53 am

    Itu kan cerita tahun 2003, bu..
    Dan tentunya ada banyak faktor yang bisa bikin angka 75% itu.. Mungkin saja marketingnya CMMI memang sengaja mengincar India.. hoho..😀

    Btw, apakah di Indonesia memang belum ada yg mencapai level 5 ya? Kalau level 4, saya tau ada beberapa..

  8. yaniwid
    June 27, 2008 at 5:46 pm

    Iya memang tahun 2003 ya… Tapi, perkiraan saya, posisi sekarang masih kurang-lebih sama. Developer dari India dikenal profesional, sehingga client-nya di berbagai negara cukup puas.
    Di Indonesia, kayaknya sertifikasi seperti ini belum dianggap penting. Client belum terlalu peduli… Atau saya salah ??

  9. June 27, 2008 at 7:54 pm

    Di Indonesia, kayaknya sertifikasi seperti ini belum dianggap penting. Client belum terlalu peduli… Atau saya salah ??

    Di Indonesia saya rasa belum ada client yang peduli tentang hal ini. Mereka tahunya asal jadi, bagus, beres, dan sesuai dengan perjanjian ya berarti software house ybs. dapat kesan yang bagus. Saya juga benar2 tahu dan merasakan ini ya pas KP, Bu😛

    -Diaz-

  10. July 7, 2008 at 10:43 am

    Halo Ibu Yani, wah senangnya ketika tahu Ibu ngeblog tentang Software Engineering. Saya juga ikutan langganan ya Bu.

    Berhubung ada beberapa orang yang komen mengenai CMM, ikut nimbrung Bu, berhubung semester ini saya ngambil kuliah Software Process Management. Ternyata, semakin tinggi level CMM bukan jaminan semakin baik pula bagi klien dan perusahaan. Semakin tinggi level CMM, semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu project. Oleh karena itu, CMM sebaiknya disesuaikan dengan karakter project dan client. Semakin kompleks suatu project, semakin jelas requirement yang mampu diberikan clientnya, dan semakin lowong waktu kerja yang tersedia, semakin baik pula CMM level tinggi. Untuk project yang requirement-nya selalu berubah dan butuh waktu cepat, cara kerja seperti yang dideskripsikan dalam CMM level 5 (misalnya) mungkin akan memperlambat waktu release. Ditambah lagi, dalam banyak kasus, tidak semua dokumentasi seperti yang disyaratkan oleh CMM level tinggi dibutuhkan klien. Oleh karena itu, beberapa perusahaan software dengan sengaja mengurangi level CMM mereka supaya bisa menangani lebih banyak project.

  11. yaniwid
    July 8, 2008 at 10:05 am

    Hi Arya… Senang juga terima kabar dari Arya… Saya banyak mendengar kabar baik tentang Arya..🙂
    Setuju. CMM memang perlu diterapkan kalau kita sering membangun S/W skala besar dan kompleks, yang membutuhkan manajemen proses yang baik. Untuk yang skala kecil, effortnya jadi terlalu berlebihan ya… Tentang ini dibahas juga di novelnya Tom de Marco (Deadline), novel tentang manajemen proyek..

  12. Hotma S.
    September 25, 2008 at 5:28 pm

    Ikut nimbrung & sharing.

    Saya agak kurang sependapat dengan pernyataan
    “Ternyata, semakin tinggi level CMM bukan jaminan semakin baik pula bagi klien dan perusahaan.”

    Karena suatu perusahaan/industri SW yang sudah memiliki CMM dengan level lebih tinggi, manajemen prosesnya akan tetap lebih baik dibandingkan dengan yang level lebih rendah.

    Justru dengan atribut bahwa perusahaan/indutri tsb. sudah memiliki CMM dengan level tertentu, maka produk SW yang dihasilkan pun telah memberikan pula jaminan atau tingkat kualitas tertentu, yang tentunya hal ini merupakan “advantage” bagi client nya.

    Persoalan akan muncul, seandainya perusahaan dengan CMM level 5 menerima pesanan dari client, yang notabene produk SW yang dipesan skalanya relatif kecil dan tidak begitu kompleks, apakah perusahaan tsb. akan melakukan manajemen proses yang ketat sesuai dengan “level capability” nya.

    Untuk itu saya setuju pendapat ibu Yani, bahwa untuk produk SW yg berskala kecil atau pun tidak terlalu kompleks, mungkin perusahaan SW tsb. perlu melakukan “adjustment” terhadap manajemen proses nya supaya bisa memenuhi “requirement” client, khususnya berkaitan dengan “delivery time” dan penyesuaian “target price” nya.

    Namun kenyataannya dan akan berjalan secara alamiah, yaitu bahwa:

    – Perusahaan / industri SW yang memiliki CMM yang tinggi (level 4 or 5) akan berbisnis pada produk SW dengan skala besar dan kompleks, baik itu berdasarkan pesanan “end-client” ataupun menerima “outsourcing” dari perusahaan besar lainya (banyak dilakukan oleh perusahaan SW di India, itu sebabnya India memiliki banyak perusahaan dengan CMM or CMMI level 5 (*)), maupun produk SW yang bukan berdasarkan pesanan, yakni produk tsb. sengaja dikembangkan untuk penetrasi pasar.

    – Sementara perusahaan SW yang memiliki CMM yang lebih rendah akan fokus atau berbisnis pada produk SW dengan skala relatif menengah ataupun lebih kecil.

    Alasannya:
    Karena bila produk SW dengan skala relatif kecil ditawarkan kepada perusahaan SW yang memiliki CMM level 5, maka perusahaan tsb. akan menawarkan harga yang jauh lebih tinggi (tidak kompetitif !) dibandingkan tawaran dari perusahaan yang memiliki CMM yg lebih rendah.

    Kesimpulannya:
    Bahwa masing perusahaan dengan CMM level tertentu akan mempunyai segmen pasar masing2 tergantung dari “scope” nya, seperti yang telah dijelaskan diatas.

    (*) Yan …..
    Mungkin perlu dibuat topik baru “Why 75% of the world’s CMM Level 5 software centers were in India (majority in Bangalore)?” bukan di negara2 sedang berkembang seperti China (negara maju ?), Vietnam, Pilipina, negara2 Eropa Timur, Amerika Latin atau bahkan di Indonesia ? ….

  13. September 26, 2008 at 10:06 am

    Thx sharingnya ya…
    Untuk topik baru yang diusulkan, rasanya pernah dibahas di koran Tempo. Bahkan Bill Gates sendiri puas bekerja sama dengan orang-orang India. Nanti saya cari dulu infonya ya…

  1. November 25, 2008 at 10:55 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: