Home > project management > Yang sulit itu…

Yang sulit itu…

Setelah terlibat dalam beberapa proyek pembangunan perangkat lunak pendukung sistem informasi, saya bisa menarik kesimpulan seperti ini: teknis software development-nya relatif tidak sulit, karena umumnya berupa pengolahan data sederhana. Software-nya biasanya bisa jadi dengan cepat.

Berikutnya, yang sulit adalah memastikan bahwa software yang sudah kita buat akhirnya bisa digunakan. Migrasi data dari sistem lama (yang bisa saja masih manual sehingga perlu effort untuk data entry) ke sistem baru adalah ‘hutan rimba’ tersendiri. Orang tidak akan mau kehilangan data historis karena masih membutuhkannya.

Yang sulit lainnya adalah memastikan bahwa setiap kategori user bisa melakukan tugasnya dengan baik. Kadang-kadang membutuhkan banyak negoisasi, sosialisasi, pelatihan, atau bahkan modifikasi terhadap software yang sudah jadi tadi. Memastikan bahwa pihak manajemen mendukung pengubahan SOP sebagai akibat diterapkannya sistem baru, juga butuh trik tersendiri…

Jadi, beberapa aspek teknis umumnya bisa segera dicari solusinya, tapi aspek non teknis bisa mengakibatkan software kita tidak jadi digunakan…

What do you think ?

Categories: project management
  1. Herman
    November 11, 2008 at 11:32 am

    Yang terakhir yg paling sulit krn membutuhkan ‘tangan besi’ dari top manajemen untuk mengubah kebiasaan manual utk menggunakan software. Apalagi software yg dibuat utk instansi yg notabene usernya yg buta dan tabu (ie. males2an) menggunakan komputer. Kita sih senang2 aja software kita tdk digunakan dg alasan support lebih mudah tapi utk jangka panjang misal proyek expansi tdk bisa diharapkan…

  2. November 11, 2008 at 2:22 pm

    hehe.. ada yang perlu digaris-bawahi Bu, beberapa aspek teknis umumnya bisa dicari solusinya..

    2 kali generalisasi Bu, hehehe…

  3. November 11, 2008 at 4:38 pm

    Tampaknya ini terkait keinginan atau mungkin kebutuhan user itu sendiri ya. Masalahnya adalah tidak selamanya user adalah pihak yang punya pengetahuan cukup dalam bidang teknologi informasi,.

  4. November 11, 2008 at 6:06 pm

    @nanto :
    kurang menjawab😛

    saya setuju dengan Pak(?) Herman, harus ada tangan besi! harus diancam : misal, kalau gak bisa entry 2000 data per hari dengan menggunakan sistem yang baru, gaji dipotong. khan orang langsung mau belajar😛

  5. Herman
    November 12, 2008 at 1:39 am

    betul sekali penerapan hasil kerja (ie. result) dalam dunia kerja menggunakan software hasil buatan kita harus diakali dg istilah ‘trik’ diatas berupa potongan penghasilan. Pasti lebih mengena karena menyangkut pemotongan gaji yang paling ditakuti tentunya bagi si pemakai software kita oleh top level manajemen perusahaan …

  6. Herman
    November 12, 2008 at 1:40 am

    Pak(?) Herman … Hmm.. iya dulu saya teman seangkatan ibu Yani…tapi dari jurusan FT😀

  7. November 12, 2008 at 11:35 am

    @Peb:
    Dua kali generalisasi ya…🙂
    Tapi ingat, kesimpulan saya itu hanya berlaku *khusus* untuk aplikasi sistem informasi yang kebanyakan berupa pengolahan data. Dan lebih *khusus* lagi, sistem informasi tanpa aspek decision support karena yang ini kadang perlu komputasi atau query data yang lebih kompleks. Nah Peb, sekarang dua kali spesialisasi🙂

    @Dwinanto:
    Kadang-kadang user-nya tau banyak tentang IT, tetapi dia tidak dalam posisi yang memungkinkan untuk mengambil keputusan. Ini akan repot…

    @Herman, Petra:
    Seharusnya ada pendekatannya yang lebih baik ya…
    Tapi, memang iya, kadang-kadang perlu pengambil keputusan yang tegas dan mau support terus untuk kelangsungan operasional software-nya.

  8. November 21, 2008 at 9:31 pm

    Klo di tempat saya itu ada semacam framework solutioning “people, process, dan teknologi”. Software, sistem dan aplikasi itu ada pada ranah teknologi dan ada pada urutan terakhir karena seringkali improvement bisa dilakukan hanya dengan mengubah faktor people dan process tanpa perubahan terhadap sistem/ teknologi. Penggunaan software sudah pasti tujuannya adalah agar mendapatkan hasil yang lebih baik dari sisi waktu atau biaya dari proses yang sudah berjalan sebelumnya. Namun sering kali software dibuat terlalu memaksakan kehendak sehingga terlalu banyak merubah proses yang sebelumnya berjalan. Faktor people kemudian tidak mau menggunakan karena tidak melihat ada benefit dari penggunaan software tersebut bagi dirinya sendiri(meskipun top level manajemen mendukung).

    Sebagian besar proses korporasi memang sepertinya tidak terlalu rumit dalam hal technical developmentnya ketika dipetakan menjadi software, biasanya solusi yang dibutuhkan straightforward tanpa perlu algorithm yang rumit. Tantangan terbesarnya adalah pada orang dan perubahan dari proses existing thd software tersebut.

    Jadi menurut saya, software sebaiknya simple, tapi mengena pada aspek people dan aspek prosesnya.

  9. November 24, 2008 at 9:46 am

    Wah bagus prioritas framework-nya…
    Memang benar, kalau people belum dikelola dengan baik dan process belum didefinisikan dengan baik, percuma melangkah lebih jauh dengan berinvestasi pada teknologi…
    Ya, software harus dibuat sesuai dengan kebutuhan user, bukan user yang mengikuti cara kerja developer…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: