Home > oop > Belajar konsep OOP…

Belajar konsep OOP…

Belajar konsep OOP (object-oriented programming) ternyata agak sulit apabila belum belajar beberapa konsep  Sistem Operasi. Bagaimana memori dikelola (memory management), bagaimana sebuah  sebuah proses dialokasi di memori,  bagaimana sebuah statement program dieksekusi…

Saat belajar konsep OOP, saya harus menjelaskan konsep code sharing atau alokasi memori untuk object saat runtime, apakah di stack memory atau di heap memory, yang memerlukan beberapa pemahaman konsep di atas (paragraf pertama). Belum lagi kalau masuk ke eksekusi kode. Beberapa pengetahuan yang dibahas di kuliah Pembangunan Kompilator akan sangat bermanfaat.

Kenapa pula harus belajar sampai ke konsepnya ? Tentu saja agar kita tidak terjebak pada hanya belajar bahasa pemrograman tertentu saja. Kita tahu ‘isi’-nya, sehingga kita bisa memanfaatkannya secara maksimal saat kita membuat program. Kita juga bisa dengan mudah berpindah dari satu bahasa ke bahasa lainnya.

Jadi, jika saat ini belajar konsep OOP masih sulit dipahami atau dibayangkan, pelajari kembali saat anda mulai paham konsep-konsep terkait lainnya…

Categories: oop
  1. February 13, 2009 at 3:24 pm

    sebenarnya pengajaran OOP itu lebih baik pendekatannya itu lewat sisi arsitektur komputer (konsep memory, heap, pointer, dll) atau dengan abstraksi dan imajinasi (hewan, burung, bebek, dsb) ?😀

  2. February 13, 2009 at 3:58 pm

    Dua-duanya dong…🙂

  3. February 13, 2009 at 10:57 pm

    sulit sih sepertinya😛

  4. February 16, 2009 at 2:07 am

    Tapi lebih cenderung ke pendekatan dengan abstraksi sih,.😀

  5. February 16, 2009 at 9:30 am

    @Petra:
    Iya memang sulit. Kelihatannya, urutan dan porsinya harus pas.
    Misalnya, untuk pemula, porsi konsep tidak perlu terlalu banyak. Porsi konsep diperbanyak jika kita ingin mengetahui konsep tertentu dan implementasinya di bahasa tertentu, sehingga kita bisa memilih bahasa yang tepat/sesuai dengan kebutuhan kita. Ternyata, saya masih harus banyak belajar mencari pendekatan terbaik. Learning by teaching…🙂

    @Dwinanto:
    Iya, pendekatan abstraksi juga memang sangat perlu…

  6. dhimas
    June 29, 2011 at 10:07 pm

    ass

    mau nanya kalau Coding Standart dan Naming Convention diisi apa aja dalam dokument RPL.?🙂

  7. July 8, 2011 at 1:39 pm

    Coding standard diisi sesuai standard pada bahasa pemrograman yang digunakan. Naming convention mencakup aturan penamaan berbagai elemen model analisis maupun model design. Itupun jika ingin ikut standard dan ingin ada aturan, yang manfaatnya akan sangat terasa jika melibatkan banyak orang…

  8. dhimas
    July 9, 2011 at 11:49 am

    ooh
    saya mulai ngerti sekarang…
    trus mau nanya kalau diagram sequence di analisis itu lebih simple atau lebih kompleks dari diagram sequence desain?

  9. July 9, 2011 at 7:07 pm

    Diagram sequence menggambarkan interaksi antar-objek melalui pertukaran pesan. Perbedaan diagram sequence tahap analisis dan design adalah: (1) objek yg berinteraksi; objek di tahap analisis dan di tahap design akan berbeda; objek di tahap design sudah mencakup objek/komponen yang mungkin sudah tersedia di pustaka bahasa pemrograman dan sudah siap diimplementasikan; di tahap analisis, objek masih fokus terhadap domain persoalan, belum memperhatikan lingkungan implementasi, (2) pesan yang dipertukarkan di diagram tahap design sudah lebih jelas signature-nya; bukan sekedar nama pesan, tapi signature lengkap yang akan menjadi signature method kelas nantinya.
    Mudah-mudahan cukup jelas…🙂

  10. dhimas
    July 10, 2011 at 12:39 pm

    terima kasih informasi cukup jelas….:)

    ehmm….
    saya mau minta referensi contoh model diagram sequence ditahap desain cos sy searching bnyk berbagai model,,nah saya jdi bingung…:)

  11. July 11, 2011 at 11:42 am

    Silahkan mencari referensi terkait Unified Process (UP) atau Rational Unified Process (RUP). Yang saya jelaskan sebelumnya adalah pendekatan yang digunakan UP/RUP.
    Jika terlalu banyak referensi dan bingung harus memilih yang mana, pilihlah yang paling sesuai dengan kebutuhan, lalu ikuti dengan lengkap. Jangan sampai kita membuat berbagai model hanya karena harus dibuat, tetapi karena kita memerlukan model tersebut agar tambah paham persoalan, dan membuat model design kita makin siap diimplementasikan…

  12. dhimas
    July 11, 2011 at 12:42 pm

    mksih buu..
    maaf klo saya bnyk tanya,hhe….🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: