Home > Uncategorized > Software vs Budaya

Software vs Budaya

Dari talk show di Software Vaganza Jum’at lalu, ada beberapa hal yang menarik untuk dicatat. Dibuka oleh Pak Windy sebagai moderator yang bertanya tentang peluang IT -khususnya software– di masa yang akan datang, Pak Armein mengemukakan bahwa peran software akan semakin besar, bahkan berpotensi besar untuk mempengaruhi budaya. Karena itu, adalah tanggung-jawab moral bagi para software engineer untuk merancang software yang membawa pengaruh positif terhadap budaya. Facebook misalnya, saat ini cenderung membuat kita lebih dekat dengan ‘teman’ yang lokasi fisiknya jauh, dibandingkan dengan tetangga atau teman kost di dekat kita (secara fisik). Software adalah sarana yang seharusnya membantu kita untuk menjadi lebih mudah melakukan berbagai hal. Misalnya, perangkat musik yang cukup rumit bisa digantikan dengan software tertentu. Dan Pak Armein pun menyumbangkan ‘suara emasnya’ diiringi musik dari perangkat mobile-nya…🙂

Pak Riki dari Kominfo menceritakan tentang usaha-usaha pemerintah untuk memanfaatkan software dalam rangka membangun good governance. Ya, dengan bantuan software, kontrol dan transparansi menjadi lebih mudah. Keteraturan dan disiplin bisa dibangun dengan lebih mudah. Selain itu, ‘budaya’ untuk menggunakan software legal atau open source software juga masih disosialisasikan pemerintah ke seluruh Pemda…

‘Budaya’ anak muda yang senang bermain game juga jadi peluang. Mas Octa dari Sangkuriang Studio berbagi pengalaman tentang pembuatan game Nusantara Online dan kiprahnya di tingkat Asia Pasifik. Kita (Indonesia) ternyata tertinggal beberapa tahun, tetapi justru jadi peluang tersendiri…

Nah, tantangan lagi untuk para software engineer ya…🙂

Categories: Uncategorized
  1. February 17, 2009 at 7:16 pm

    Budaya pembajakan berdasarkan salah seorang profesional, merupakan bukti pengakuan kualitas, bagaimana ya kira-kira hal itu,.

  2. February 18, 2009 at 10:39 am

    Bisa jadi benar, pembajakan adalah bukti pengakuan kualitas.
    Orang tidak akan membajak kalau produk kita buruk.
    Tapi, pengakuan kualitas seharusnya juga bisa dilakukan dengan cara yang positif ya…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: