Home > project management > Manajemen Resiko Gempa

Manajemen Resiko Gempa

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesai (LIPI) menyatakan bahwa pemerintah dan masyarakat perlu menerapkan managemen resiko terhadap gempa, hal itu untuk meminimalisasi korban dan kerugian, baik lingkungan, ekonomi maupun sosial.

Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI, Prof Dr Ir Jan Sopaheluwaken, MSc saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (6/10) mengatakan, bencana bisa mengancam siapa saja, dan daerah mana, untuk itu perlu adanya penerapan manajemen resiko gempa dengan membuat model dan skenario, mulai dari tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi  dalam sistem tata kota. Menurutnya, dengan memahami manajemen risiko gempa, pemerintah dan masyarakat bisa mengetahui risiko dari bencana yang frekuensinya rendah dengan dampak tinggi, ataupun bencana yang frekuensinya rendah dengan dampak kecil. Manajemen risiko gempa, katanya, diterapkan dalam bentuk pemahaman dan pelatihan mengenai apa tepatnya yang harus dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan tiap individu bila terjadi gempa.

(Berita lengkapnya ada di sini)

Ini mirip dengan manajemen resiko pada pembangunan perangkat lunak. Sebelum proyek dimulai, kita perlu mengidentifikasi resiko apa yang mungkin muncul saat proyek berlangsung, apa yang harus kita siapkan agar saat resiko benar-benar terjadi, kita bisa segera menanganinya.  Jadi, kita tidak perlu takut terhadap resiko, selama kita tahu dan siap menghadapinya…

Categories: project management
  1. herman
    October 9, 2009 at 2:16 pm

    sayangnya setiap daerah akan mempunyai model yang berbeda. Dan setiap kebijakan daerah perlu modal. yg jadi masalah modal darimana lagi dan apa jaminannya penelitiannya ini dananya tdk disalahgunakan di tiap daerah.. too complicated tapi ide yg bagus..

  2. October 11, 2009 at 10:31 pm

    Ya, tiap daerah punya karakteristik berbeda. Memang tidak mudah, tapi layak dicoba. Mengingat bbrp wilayah memang rawan gempa…

  3. October 13, 2009 at 6:56 pm

    Manajemen resiko apakah untuk bencana atau lainnya mirip seperti asuransi. Kelihatannya sebagai ‘cost’ apalagi kalau tidak terjadi apa-apa, tapi begitu terjadi sesuatu ‘cost’ yg diperlukan bisa jauh lebih besar lagi jika tidak ada manajemen resiko atau asuransi tsb.

  4. October 14, 2009 at 7:47 pm

    Analogi yang pas Pak, asuransi dengan manajemen resiko…

  5. Ki Syafrudin
    October 19, 2009 at 9:55 pm

    Sekedar nambah tentang gambaran kasar Tatalaksana Resiko:
    – Langkah pertama pengenalan resiko
    – Selanjutnya pengukuran nilai resiko dihitung dari nilai kemungkinan kejadiannya dan nilai dampaknya(kalau resiko itu terjadi).

    – Selanjutnya kita tentukan apa yang akan kita lakukan terhadap resiko tersebut:
    – Accept risk, biasanya jika nilai resiko bisa diabaikan. Di sini kita cukup membukukan nilai resiko (sebagai penjagaan kalau itu terjadi) tanpa melakukan apapun.
    – Avoid risk, mengubah perencanaan sehingga resiko tersebut tidak ada lagi.
    – Mitigate risk, kita melakukan sesuatu untuk mengurangi dampak dari resiko itu kalau terjadi.
    – Transfer risk, seperti dengan mengasuransikan resiko tersebut.

    en.wikipedia.org/wiki/Risk_Matrix
    en.wikipedia.org/wiki/Risk_management

  6. October 19, 2009 at 10:18 pm

    Tks untuk sharingnya. Jadi lebih lengkap…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: