Home > service computing > Services Computing

Services Computing

Ini adalah disiplin baru yang mencakup ilmu dan teknologi untuk menjembatani gap antara business services dan IT services. Ya, orang bisnis tidak perlu tahu terlalu detil tentang IT untuk menyelesaikan masalahnya, dan orang IT tidak harus paham bisnis untuk membantu mengembangkan solusi bisnis berbantuan IT. Teknologi dasarnya adalah web services dan SOA (service oriented architecture). Kenapa berkembang ? Uraian  pengantar di sini yang ditulis Pak Armein bisa memberikan gambaran…

Services Computing ini bahkan sudah didefinisikan Body of Knowledge-nya pada IEEE Transactions on Services Computing, Vol. 1, N0. 2, April – June 2008 (bisa diakses di sini). Lebih jauh lagi, kurikulum untuk degree program di bidang ini juga mulai didefinisikan…

Tertarik ?

Categories: service computing
  1. October 20, 2009 at 11:15 am

    pendekatan SOA dari pak Armein bener-bener keren😆

    semoga teknologi SOA bisa cepat dikejar di Indonesia.

  2. Ki Syafrudin
    October 20, 2009 at 9:13 pm

    Soal Body of Knowledge-nya, menurut sepengatahuan Bu Yani, apakah pengajaran / penerapan RPL di Indonesia sudah mengacu ke SWEBOK atau SE2004 ?

    Lebih jauh lagi, apakah sudah ada yang ngincer sertifikasi CSDP dan CSDA ?

    en.wikipedia.org/wiki/Software_Engineering_Body_of_Knowledge
    en.wikipedia.org/wiki/Software_Engineering_2004
    en.wikipedia.org/wiki/Certified_Software_Development_Professional

  3. October 21, 2009 at 12:10 pm

    @Petra:
    Dari bidang keilmuan, kita bisa mulai mengejar, meskipun masih sebatas ikut apa yang sudah dikembangkan di luar. Beda dengan gaya hidup berorientasi service. Ini lebih sulit karena melibatkan masyarakat luas…🙂

    @Ki Safrudin:
    Sepengetahuan saya, pengajaran di bidang RPL masih belum disisipkan di bidang ilmu yang lebih luasnya, seperti computer science. Di ITB sendiri, Rekayasa Perangkat Lunak baru jadi salah satu jalur pilihan di Program Studi Magister Informatika. Salah satu acuan pengembangan kurikulum Program Studi Sarjana Teknik Informatika adalah Computing Curricula-nya ACM. Di sana juga ada ada BoK untuk RPL. SWEBOK juga kami lihat meskipun tidak diadopsi seluruhnya karena beberapa keterbatasan.
    Tentang sertifikasi, kelihatanya Program Studi belum fokus ke hal-hal seperti ini. Menurut saya, ini akan jadi tambahan yang baik jika menjadi software engineer yang profesional…

    Salam kenal ya. Tks atas partisipasinya di blog ini…🙂

  4. Ki Syafrudin
    October 26, 2009 at 1:29 pm

    Bu Yani, terima kasih atas tanggapannya.

    Bu Yani IF89 kan ? Berarti seangkatan teman saya Imam Hazairin ?

    Apakah Computing Curricula-nya ACM yang ibu maksud adalah CC-2005 ?

    Yang saya baca, CC-2005 ini memberikan kurikulum untuk 5 sub-disiplin: Computer Science (revisi terakhir CS-2008), Computer Engineering (terakhir CE-2004), Information System (terakhir IS-2002), Information Technology (IT-2008), dan Software Engineering (terakhir SE-2004). Dari ke lima kurikulum ini, manakah yang paling diacu oleh IF di jenjang Sarjana, sepertinya CS ya ?

    Sepemahaman saya pada dasarnya SE-2004-nya serupa dengan SWEBOK-nya IEEE, wajar karena CC-2005 maupun pendahulunya CC-2001 kan hasil kerja bareng ACM dan IEEE-CS. IEEE menerbitkan SWEBOK pada tahun 2004 juga.

    Berkaitan dengan pendidikan informatika di Indonesia, sepengetahuan Ibu, lebih banyak mana alumni (khususnya IF-ITB) yang bekerja di sub disiplin IS, IT, atau SE ?

    Sepertinya kita masih sulit ya bersaing dengan India di bidang RPL ini ?

  5. October 26, 2009 at 4:32 pm

    Iya, saya temannya Imam.
    Ya, CC-2005. Memang didefinisikan 5 sub-disiplin. Tapi Teknik Informatika ITB (Program Sarjana) ‘menggabung’ Computer Science dan S/W Engineering. Jadinya memang bukan khusus CS ataupun khusus SE.
    Tentang wilayah kerja alumni, saya tidak punya data. Tapi alumni kami kelihatannya masih banyak yang bekerja di bidang SE.

    Setuju, secara nasional kita kalah bersaing dengan India. Mungkin industri SW belum jadi fokus di Indonesia. Tapi kalau melihat kemampuan perorangan, saya yakin putra-putri Indonesia banyak yang tinggi kemampuannya. Sayang sekali, karena bekerja di Indonesia (masih) kurang menarik (atau bahkan belum terlalu banyak), akhirnya banyak yang bekerja di industri SW di LN.

  6. Ki Syafrudin
    October 28, 2009 at 8:31 pm

    Terima kasih atas masukannya.

    Nanya lagi, Bu Yani tahu nggak siapa yang bersertifikat (atau setidaknya menerapkan secara penuh) CMMI di Indonesia selain Mitrais dan Balicamp ?

    //dari yang sedang nyari teman untuk belajar penerapan CMMI//

  7. October 29, 2009 at 5:58 pm

    Saya tidak tahu. Padahal perlu info yg sama juga…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: